Ekbis9, Tebingtinggi - Di balik tembok tinggi dan pintu besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Tebing Tinggi, harapan masih tumbuh. Bagi puluhan perempuan yang tengah menjalani masa pidana, setiap hari bukan hanya tentang menghitung waktu menuju kebebasan, tetapi juga tentang memperbaiki diri dan menemukan kembali makna kehidupan.
Suasana itu terlihat saat Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Kelas II-B Tebing Tinggi, Hendrianto Sitorus, S.T., menyampaikan pesan kepada warga binaan perempuan. Bukan nasihat yang rumit, melainkan ajakan sederhana yang terus ia ulangi setiap kali berinteraksi dengan mereka, yakni kembali kepada Tuhan dan memperbanyak doa dalam menghadapi setiap persoalan hidup.
Menurut Hendrianto, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Namun, kesalahan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup. Ia meyakini bahwa ketenangan batin dan kekuatan untuk bangkit dapat dimulai dari niat yang baik serta kedekatan dengan Sang Pencipta. Karena itu, pembinaan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan, tetapi juga pembinaan mental dan spiritual.
Saat ini terdapat 21 warga binaan perempuan yang menempati satu blok khusus di Lapas Kelas II-B Tebing Tinggi. Selama menjalankan tugas sebagai KPLP, Hendrianto mengaku memilih pendekatan persuasif dalam membina mereka. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan suasana yang lebih kondusif sekaligus membangun kepercayaan antara petugas dan warga binaan.
"Pesan saya kepada mereka sederhana, kembalilah kepada Tuhan. Apa pun masalah yang dihadapi, mulailah dengan doa dan ibadah. Niatkan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau ada niat, insyaallah setiap persoalan bisa diselesaikan," ujarnya saat ditemui di kantornya, Rabu (5/8/2026).
Pendekatan humanis itu, menurut Hendrianto, sejauh ini membuahkan hasil. Selama dirinya menjabat sebagai KPLP, tidak ada warga binaan perempuan yang menunjukkan perilaku anarkis maupun tindakan agresif. Ia menilai mereka masih sangat terbuka untuk menerima arahan dan pembinaan yang diberikan oleh petugas.
Dari 21 warga binaan perempuan tersebut, sekitar 50 persen tersangkut kasus penyalahgunaan narkotika. Fakta itu menjadi pengingat bahwa persoalan narkoba masih menjadi tantangan serius yang tidak hanya merenggut kebebasan seseorang, tetapi juga berdampak pada masa depan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Bagi Hendrianto, lembaga pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang untuk memperbaiki diri. Ia berharap seluruh warga binaan dapat memanfaatkan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk bangkit, memperkuat iman, serta kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik ketika masa pidana mereka berakhir. ( )
» Thanks for reading: Kembali ke Tuhan, Pesan Sederhana untuk Pegangan bagi Warga Binaan Perempuan di Lapas Tebing Tinggi%20(1).jpeg)

