Lake Toba Writers Festival Hadirkan Sastra, Budaya, dan Kesadaran Lingkungan ke Sibisa di Kabupaten Toba.

Minggu, September 13, 2026

LTWF 2026, festival sastra terkemuka di Indonesia, setelah Medan, kemudian berlokasi di Sibisa di Kabupaten Toba, tepatnya di Toba Caldera Resort

Sibisa, Toba, EKBIS9.com  Setelah peluncuran Lake Toba Writers Festival (LTWF) 2026 yang sukses di Medan, salah satu festival sastra terkemuka di Indonesia ini beralih ke Sibisa di Kabupaten Toba. Di Toba Caldera Resort yang luas dan asri, berbagai sesi yang menghadirkan penulis, penyair, dan pakar digelar di hadapan audiens yang memadati lokasi acara.

Pada peluncuran acara tersebut, pesan dari Bapak Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara, dibacakan kepada hadirin. Beliau mengatakan “Tema festival yang diangkat tahun ini, yaitu "Hidup Berkelanjutan untuk Budaya Berkelanjutan", sangat relevan dan menyentuh prioritas pembangunan pariwisata kita. Mengingat dampak lingkungan dari deforestasi dan banjir yang sempat melanda wilayah sumatera utara beberapa bulan lalu, kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara kelestarian lingkungan, akar budaya, dan kesejahteraan masyarakat menjadi semakin krusial. Saya mengucapkan selamat berfestival. Mari kita jadikan Lake Toba Writers Festival sebagai ruang perjumpaan yang memperkuat pelestarian ekologi dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar”.

Dalam sambutan pembukaannya, pendiri festival Amol Titus menyampaikan terima kasih kepada Gubernur dan mengatakan bahwa “Budaya, jika dikembangkan secara autentik dengan menghormati tradisi leluhur serta memiliki keterbukaan terhadap pembelajaran, pengaruh, dan kolaborasi baru, dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan bangsa. Di tengah situasi ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya angka kemiskinan yang dihadapi Indonesia, kreativitas dan keberlanjutan dapat menjadi solusi bagi kemajuan.

LTWF turut mendukung dan menghidupkan kembali dunia sastra dengan memberikan penghormatan kepada para legenda sastra internasional maupun lokal, serta menampilkan beragam gaya penulisan dari para penulis kontemporer.”

Budaya tidak dapat berkembang jika masyarakat kehilangan kesadaran lingkungan dan mulai hidup di tengah polusi, sampah, penggundulan hutan, pembangunan yang semrawut, serta kerusakan flora dan fauna. Itulah inti dari tema LTWF2026 – Hidup Berkelanjutan demi Budaya yang Berkelanjutan.

Berbagai kegiatan kami mencerminkan komitmen untuk meminimalkan penggunaan plastik; kami pun mengimbau para delegasi untuk membawa botol minum dan tas kain sendiri. Makanan dan suvenir diperoleh dari sumber lokal, dengan prioritas diberikan kepada pemasok UMKM setempat yang diwajibkan menggunakan kemasan berbahan kertas, kardus daur ulang, dan daun pisang.

Melalui komitmen ini, kami menunjukkan penghormatan terhadap Danau Toba sekaligus memberikan pelajaran berharga bagi banyak generasi muda yang hadir—pelajaran yang diharapkan akan terus mereka ingat dan wujudkan dalam bentuk kebiasaan ramah lingkungan.

Saat menyambut para delegasi, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, Arditama Nusantara Putra, menyatakan bahwa merupakan suatu kehormatan bagi Toba Caldera Resort untuk menjadi tuan rumah festival bergengsi ini.

Ia mengatakan bahwa budaya, khususnya sastra, memiliki peran vital dalam meningkatkan daya tarik kawasan resor tersebut sebagai destinasi wisata.

Dalam pidato utamanya, Wakil Bupati Toba, Dr. Audi Murphy O. Sitorus, mengapresiasi upaya para penulis, pembaca, dan pencinta budaya yang telah menempuh perjalanan jauh untuk berpartisipasi dalam festival ini.

Ia menyampaikan selamat kepada Amol Titus atas inisiatif perintis yang memadukan sastra dengan elemen budaya lokal, seperti tari, musik, kerajinan tangan, dan kuliner. Ia juga menyebutkan komitmen Kabupaten Toba untuk mendukung para penulis dan penyair, serta menyatakan niatnya untuk menjalin kerja sama di masa mendatang.

Sesi berikutnya berlangsung secara informatif dan menarik, menampilkan Ichwan Azhari yang memaparkan tentang naskah kuno ‘Pustaha Laklak’ dari budaya Batak - naskah yang sayangnya justru lebih terawat dan terkoleksi dengan baik di Eropa Barat dibandingkan di Indonesia. Diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap benda-benda berharga ini, serta upaya untuk menguraikan isinya, menyusun kamus berdasarkan konsensus para ahli, dan memulangkannya kembali ke tanah air.

Penulis lain yang tampil pada hari itu antara lain Dr Wilmar Simanjorang dari Samosir, Saut Poltak Tambunan asal Balige namun berdomisili di Jakarta, Mikhael Naibaho dari Balige, Ubai Dillah Al Anshori dari Padang Panjang, dan Soekirman dari Medan. Melani Butar Butar dan Dr Azizul Kholis juga membahas mengenai rencana perbaikan di UNESCO Global Geopark Kaldera Toba terkait aspek lingkungan dan budaya.

Dalam sesi Sastra Inggris, Amol Titus memberikan penghormatan kepada Harper Lee dan Agatha Christie serta mengupas tema, gaya penulisan, dan karakter khas karya mereka. Ia juga membacakan kutipan dari buku puisi dialognya yang mendapat pujian kritis, ‘The Fellowship of Krakatau’, yang diilhami oleh gunung-gunung berapi ternama di Indonesia.

Delegasi mahasiswa dari Universitas Simalungun, Unita, dan IAKN diundang secara khusus, dan dua mahasiswa dari Unita juga menerima penghargaan karena berhasil masuk dalam daftar terpilih juara lomba penulisan kreatif bagi kaum muda. Sebelumnya, dua mahasiswa dari Unimed dan satu mahasiswa dari USU telah menerima penghargaan pada hari pembukaan festival di Medan.

Sesi penutup festival menampilkan perpaduan indah antara puisi dan tarian yang diangkat dari karya Amol Titus, ‘The Ballad of Lake Toba’

“The Gorgas of philosophy, values, commitment and kinship
Lizard-like Boraspati’s comforting presence, protective grip
Deep significance of colour combinations white, black, red
Interplay among upper and living worlds and world of dead” “Gorga bukan motif saja
Itu pola alam semesta
Semesta filsafat dan nilai
Semesta komitmen dan kekerabatan
Boraspati tidak hanya simbol kadal
Itu penanda menenangkan
Penanda perlindungan
Putih, merah, hitam
Bukan sekedar warna
Itu interaksi timbal balik
Antara dunia atas dan kehidupan
Dan dunia orang mati dan roh”

Pertunjukan penutup yang memukau, sebuah perpaduan antara puisi dan tari, dibuka dengan kisah asal-usul Danau Toba yang disajikan secara audio-visual. Acara kemudian berlanjut dengan kisah mengenai tari Tor-Tor, yang memiliki beragam bentuk yang mencerminkan berbagai situasi kehidupan, suasana hati, dan keadaan tertentu.

Tarian ini mencakup versi yang bersifat serius dan spiritual (seperti Tor-Tor Sipitu Cawan) serta pertunjukan yang melambangkan kegembiraan dan perayaan (seperti Tor-Tor Simonangmonan dan Mangalek).

Segmen ketiga menyampaikan pesan penting terkait lingkungan kepada penonton. Segmen ini menggambarkan gaya hidup ramah lingkungan ala tetua Batak menurut sudut pandang sang penyair.

Hal ini sangat kontras dengan kebiasaan sembrono masa kini yang ditandai oleh ketergantungan pada plastik dan tumpukan sampah. Masyarakat memandang sosok Ibu Danau Toba—tokoh sentral dalam ‘The Ballad of Lake Toba’ yang menjadi lawan bicara dalam seluruh dialog—sebagai sosok yang awalnya murni, sehat, dan berwarna biru.

Namun, ia kemudian menjadi sakit, tercemar, dan kelabu. Setelah masyarakat menyadari kesalahan dan bertobat, sang Ibu Danau pun mulai pulih kembali.

Penyair sekaligus penata visual Amol Titus berkolaborasi dengan sangat apik bersama koreografer tari Devi Siregar dan tim seniman muda berbakatnya untuk menghasilkan pertunjukan yang tak terlupakan.

Dalam sambutan penutup Kadisbudpar Kab. Toba, Rikardo Hutajulu menyampaikan puisi dan tarian yang luar biasa. Koreografer yang rapi dapat menampilkan karakter yang tepat, dengan pesan yang menginspirasi dan menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga Danau Toba. Acung jempol buat Pak Amol. ( )

» Thanks for reading: Lake Toba Writers Festival Hadirkan Sastra, Budaya, dan Kesadaran Lingkungan ke Sibisa di Kabupaten Toba.

EKONOMI

BISNIS

POLITIK

HUKUM

DAERAH