![]() |
| Dokter spesialis saraf di Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Indriazel Syaputri Hutasuhut, Sp.N |
Ekbis9.com - Laporan Digital 2025 mencatat lebih dari 212 juta pengguna internet di Indonesia, dengan rata-rata waktu penggunaan perangkat digital yang terus meningkat.
Data medis menunjukkan prevalensi neuropati pada populasi umum berkisar antara 1% hingga 7%.Angka ini cenderung lebih tinggi pada individu yang terlibat dalam aktivitas repetitif dan posisi statis dalam waktu lama, seperti pekerja kantoran dan pelaku industri kreatif digital.
Dokter spesialis saraf di Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Indriazel Syaputri Hutasuhut, Sp.N, menjelaskan gejala gangguan saraf seringkali diabaikan, padahal dapat memiliki dampak permanen jika tidak ditangani sejak dini.
“Gejala awal
seperti kesemutan, baal (mati rasa), hingga nyeri pada tangan atau leher adalah
sinyal bahwa saraf sedang mengalami tekanan. Konsultasi dini dengan dokter
spesialis saraf dapat meningkatkan peluang diagnosis akurat dan penanganan
optimal sebelum kondisi memburuk,” ujar dr. Indriazel.
Dr. dr. Beni Satria, M.Kes., S.H., M.H., FISQua, Hospital CEO Columbia Asia Hospital Aksara, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendukung produktivitas masyarakat.
Columbia Asia Hospital Aksara berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan saraf di tengah meningkatnya penggunaan teknologi.
"Melalui edukasi kesehatan dan layanan Neurologi yang komprehensif, kami
berharap masyarakat dapat mengenali gejala gangguan saraf perifer sejak dini,
menerapkan pola kerja yang lebih ergonomis, serta segera mendapatkan penanganan
yang tepat agar tetap sehat dan produktif,” tegas dr. Beni.




